
Amsal 23:8
Suap yang telah kaumakan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kausia-siakan.
Pernahkah kita menerima kebaikan seseorang, tetapi setelah itu justru merasa tidak nyaman?
Mungkin awalnya kita merasa bersyukur karena ditraktir makan, diberi hadiah, atau ditolong dalam suatu kesulitan. Namun beberapa waktu kemudian, orang itu terus mengungkit apa yang telah diberikannya.
Ia menceritakannya kepada banyak orang. Ia mengharapkan balasan.
Bahkan ia menggunakan pemberiannya sebagai alat untuk mengendalikan atau membuat kita merasa berutang budi.
Saat itulah sukacita yang semula kita rasakan berubah menjadi penyesalan.
Apa yang tadinya tampak sebagai kasih ternyata hanyalah transaksi yang dibungkus dengan keramahan.
Itulah gambaran yang diberikan Salomo. Makanan yang sudah dimakan seolah-olah ingin dimuntahkan kembali karena kita sadar bahwa pemberian itu tidak pernah lahir dari hati yang tulus.
Kata-kata pujian yang telah kita ucapkan pun terasa sia-sia, karena ternyata kita sedang menghargai sesuatu yang sejak awal tidak diberikan dengan kasih.
Ayat ini mengajak kita bukan hanya berhati-hati terhadap orang lain, tetapi terlebih dahulu memeriksa hati kita sendiri.
Mengapa kita memberi?
Mengapa kita menolong?
Mengapa kita melayani?
Kadang-kadang motivasi yang tidak murni begitu halus sehingga kita sendiri tidak menyadarinya.
Kita memberi supaya dihormati.
Kita melayani supaya dipuji.
Kita membantu supaya suatu hari nanti orang itu membalas jasa kita.
Kita bermurah hati supaya nama kita semakin dikenal.
Dari luar semuanya tampak baik, tetapi Allah melihat motivasi yang tersembunyi di dalam hati.
Yesus sendiri mengajarkan bahwa ketika memberi sedekah, jangan sampai tangan kiri mengetahui apa yang diperbuat tangan kanan.
Prinsipnya sederhana. Kebaikan yang sejati tidak haus akan pengakuan. Kasih yang sejati tidak terus menghitung pengorbanannya.
Orang yang sungguh-sungguh mengasihi akan lebih bersukacita melihat orang lain diberkati daripada sibuk menghitung apa yang sudah ia keluarkan.
Dalam kehidupan keluarga, hal ini juga sangat penting.
Seorang suami yang terus mengingatkan istrinya tentang semua pengorbanannya akan membuat kasih terasa seperti beban.
Seorang istri yang selalu mengungkit semua jasanya kepada suami juga akan melukai hubungan mereka.
Orang tua yang terus mengingatkan anak-anak tentang biaya yang telah mereka keluarkan dapat membuat kasih berubah menjadi tekanan.
Padahal kasih yang sejati memberi dengan sukacita, bukan dengan catatan utang.
Demikian pula dalam pelayanan gereja.
Ada orang yang melayani bertahun-tahun, tetapi setiap kali terjadi perbedaan pendapat, ia mulai menghitung semua jasanya.
“Saya sudah melakukan ini.”
“Saya sudah berkorban itu.”
Akibatnya, pelayanan yang semula menjadi berkat berubah menjadi alat untuk menuntut penghargaan.
Tuhan tidak menghendaki hati seperti itu.
Allah sendiri menjadi teladan terbesar tentang pemberian yang tulus.
Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal bukan karena manusia layak menerimanya, melainkan karena kasih-Nya yang besar.
Keselamatan bukanlah transaksi. Itu adalah anugerah.
Karena kita telah menerima kasih yang demikian besar, kita pun dipanggil untuk mengasihi dengan motivasi yang sama.
Hari ini, mari kita belajar memberi tanpa menghitung-hitung.
Menolong tanpa mengharapkan balasan.
Mengasihi tanpa menyimpan daftar pengorbanan.
Ketika kita melakukan semua itu, hubungan kita akan dipenuhi damai sejahtera, dan orang lain akan merasakan kehangatan kasih Kristus melalui hidup kita.
Kasih yang sejati tidak menghitung apa yang telah diberikannya, karena ia memberi dari hati yang telah lebih dahulu dipenuhi kasih Allah.
