
Amsal 17:8
Hadiah suapan adalah seperti mestika di mata yang memberinya, ke mana juga ia memalingkan muka, ia beruntung.
Ada sebuah ungkapan yang sering terdengar di tengah masyarakat, “Kalau ada uang, semua urusan pasti beres.”
Meskipun terdengar sederhana, kalimat itu mencerminkan sebuah keyakinan yang sangat berbahaya.
Tanpa disadari, uang tidak lagi dipandang sebagai alat, melainkan sebagai sumber pertolongan.
Inilah gambaran yang diberikan Amsal 17:8.
Orang yang memberikan hadiah suapan memandang uangnya seperti sebuah mestika. Dalam budaya kuno, mestika dianggap sebagai batu yang memiliki daya tarik atau kekuatan istimewa.
Salomo memakai gambaran ini untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat memiliki keyakinan yang berlebihan terhadap uang.
Di matanya, uang mampu membuka pintu yang tertutup, mengubah keputusan, menghapus hambatan, dan menghadirkan keberuntungan.
Namun perhatikan baik-baik kalimatnya. Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa hadiah suapan benar-benar membawa keberuntungan.
Ayat ini berkata bahwa hadiah suapan adalah seperti mestika “di mata yang memberinya.”
Artinya, itulah cara pandang si pemberi suap. Ia percaya uang adalah jawaban bagi hampir semua persoalan.
Bukankah cara berpikir seperti ini masih banyak ditemukan pada masa sekarang?
Tidak semua orang memberikan suap, tetapi banyak orang mulai mengandalkan uang lebih daripada Tuhan.
Kita merasa lebih tenang ketika tabungan bertambah daripada ketika hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat.
Kita lebih sibuk mencari koneksi daripada mencari hikmat Tuhan.
Kita lebih percaya kepada kemampuan finansial daripada penyertaan Allah.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa uang adalah sumber keamanan.
Uang memang penting. Uang adalah berkat Tuhan yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga, memberkati sesama, dan mendukung pekerjaan Tuhan.
Tetapi uang tidak pernah dimaksudkan menjadi tempat kita meletakkan iman.
Ketika uang menjadi “mestika” dalam hati kita, kita akan mulai membenarkan cara-cara yang salah demi mendapatkannya.
Kita tergoda mencari jalan pintas, memanipulasi keadaan, bahkan mengorbankan integritas.
Hasilnya mungkin terlihat menguntungkan untuk sementara, tetapi hati kita semakin jauh dari Tuhan.
Sebaliknya, orang yang takut akan Tuhan percaya bahwa berkat sejati tidak bergantung pada suapan, melainkan pada penyertaan Allah.
Tuhan mampu membuka pintu yang tidak dapat dibuka oleh uang. Ia sanggup menyediakan jalan ketika semua jalan tampak tertutup.
Berkat yang berasal dari Tuhan mungkin tidak selalu datang dengan cepat, tetapi selalu datang melalui cara yang benar dan membawa damai sejahtera.
Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang menjadi “mestika” dalam hidup kita?
Apakah kita lebih mengandalkan uang daripada Tuhan?
Ataukah kita tetap percaya bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat?
Jangan sampai apa yang seharusnya menjadi alat berubah menjadi berhala.
Sebab bukan uang yang menentukan masa depan kita, melainkan Tuhan yang memegang seluruh kehidupan kita di dalam tangan-Nya.
Kasih Allah mengampuni masa lalumu, tetapi takut akan Tuhan menjaga masa depanmu.
