
Amsal 16:7
Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.
Banyak orang menghabiskan energi yang sangat besar untuk membuat semua orang menyukai dirinya.
Kita berusaha menjaga citra, menghindari konflik, mencari persetujuan, dan berupaya mempertahankan hubungan dengan segala cara.
Namun semakin keras kita berusaha mengendalikan hati orang lain, semakin kita menyadari bahwa ada sesuatu yang berada di luar kuasa kita.
Kita tidak bisa mengatur pikiran orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang untuk menyukai kita. Kita juga tidak bisa mengendalikan bagaimana orang memperlakukan kita.
Amsal 16:7 memberikan perspektif yang membebaskan. Fokus utama kita bukanlah membuat semua orang berkenan kepada kita, melainkan membuat hidup kita berkenan kepada Tuhan.
Ada perbedaan yang besar di antara keduanya.
Jika tujuan hidup kita adalah menyenangkan manusia, kita akan mudah lelah.
Kita akan terus berubah mengikuti harapan setiap orang. Kita akan takut ditolak dan cemas ketika ada yang tidak menyukai kita.
Namun ketika tujuan hidup kita adalah menyenangkan Tuhan, hati kita menjadi lebih tenang.
Kita belajar untuk hidup dalam integritas, kejujuran, kasih, dan kebenaran tanpa harus terikat pada penilaian manusia.
Menariknya, Tuhan berjanji bahwa Dia sendiri akan bekerja dalam relasi-relasi yang ada di sekitar kita.
Mungkin ada seseorang yang pernah salah paham dengan kita.
Mungkin ada rekan kerja yang sulit diajak bekerja sama.
Mungkin ada anggota keluarga yang hubungan dengannya terasa dingin.
Mungkin ada orang yang memusuhi kita tanpa alasan yang jelas.
Sering kali reaksi alami kita adalah membalas, mempertahankan diri, atau berusaha memenangkan pertengkaran.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa ada kuasa yang lebih besar daripada kemampuan diplomasi manusia, yaitu campur tangan Allah sendiri.
Bukan berarti kita menjadi pasif. Kita tetap perlu meminta maaf jika bersalah, mengampuni, membangun komunikasi yang sehat, dan berusaha hidup dalam damai sejauh itu bergantung pada kita.
Tetapi setelah melakukan bagian kita, kita menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Percayalah bahwa Allah sanggup melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan.
Dia sanggup melembutkan hati yang keras.
Dia sanggup mengubah kebencian menjadi penghormatan.
Dia sanggup mengubah permusuhan menjadi perdamaian.
Bahkan ketika keadaan belum berubah, Dia sanggup memberikan damai di dalam hati kita.
Kadang-kadang Tuhan tidak langsung mengubah musuh kita.
Sebaliknya, Dia terlebih dahulu mengubah diri kita. Dia memurnikan motivasi kita, mengikis kesombongan kita, dan mengajarkan kerendahan hati.
Tidak jarang konflik berkepanjangan terjadi karena kedua belah pihak sama-sama ingin menang.
Namun Tuhan memanggil kita untuk lebih dahulu mencari apa yang menyenangkan hati-Nya daripada memenangkan perdebatan.
Di dunia yang semakin mudah terpecah karena perbedaan pendapat, orang percaya dipanggil menjadi pembawa damai.
Bukan dengan mengorbankan kebenaran, tetapi dengan menghadirkan kasih, kelembutan, dan kebijaksanaan Tuhan.
Hari ini, mungkin ada nama seseorang yang langsung muncul di pikiran Anda. Seseorang yang hubungannya sedang renggang, sulit, atau bahkan menyakitkan.
Jangan hanya berfokus pada orang tersebut. Mulailah dengan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah jalan hidupku sudah berkenan kepada Tuhan?”
Karena sering kali, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengubah orang lain, melainkan ketika kita mengizinkan Tuhan mengubah hati kita terlebih dahulu.
Dan ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, kita dapat mempercayakan relasi-relasi yang sulit ke dalam tangan-Nya.
Sebab Tuhan yang memegang hati manusia sanggup melakukan perkara-perkara yang tidak pernah dapat kita capai dengan kekuatan sendiri.
Berhentilah berusaha menyenangkan semua orang, dan mulailah hidup untuk menyenangkan Tuhan.
