Ketika Kata-Kata Menjadi Berkat

Ketika Kata-Kata Menjadi Berkat


Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.


Kita berbicara kepada pasangan, anak-anak, rekan kerja, teman, dan banyak orang lainnya.

Namun Amsal mengingatkan bahwa perkataan tidak pernah netral. Setiap kata yang kita ucapkan sedang menanam sesuatu dalam kehidupan orang lain.

Ada orang yang setelah berbicara dengan kita merasa dikuatkan.  Mereka datang dengan hati yang lelah, tetapi pulang dengan semangat yang baru.

Ada pula orang yang setelah mendengar perkataan kita justru merasa terluka, direndahkan, atau kehilangan harapan.

Pohon tidak menghasilkan buah dalam satu hari. Ia tumbuh perlahan, tetapi dampaknya besar dan berjangka panjang.

Demikian pula perkataan yang baik. Kadang kita tidak langsung melihat hasilnya.

Sebuah kalimat sederhana seperti, “Saya percaya kamu bisa,” atau “Tuhan menyertaimu,” mungkin terdengar biasa saja.

Namun perkataan itu dapat terus hidup dalam hati seseorang selama bertahun-tahun.

Banyak orang dewasa masih mengingat ucapan menyakitkan yang pernah mereka dengar ketika masih kecil.

Sebuah hinaan, ejekan, atau kata-kata yang meremehkan dapat membekas jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.

Karena itu, orang bijak tidak hanya memikirkan apa yang ingin ia katakan, tetapi juga dampak dari perkataannya.

Ia menyadari bahwa setiap kata memiliki kekuatan.
Ia memilih untuk berbicara dengan kasih tanpa mengorbankan kebenaran.

Kadang-kadang kebenaran tetap harus disampaikan. Namun kebenaran itu disampaikan dengan cara yang membangun, bukan menghancurkan.

Yesus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Ketika berhadapan dengan orang yang berdosa, Ia berbicara dengan penuh kasih dan anugerah.

Ketika orang-orang lain ingin menghukum, Ia menawarkan pemulihan.

Ketika murid-murid-Nya gagal memahami, Ia mengajar dengan kesabaran.

Perkataan-Nya membawa kehidupan bagi mereka yang mendengarnya.

Apakah perkataan kita lebih sering menjadi pohon kehidupan atau justru sumber luka?

Apakah keluarga kita merasa dikuatkan oleh kehadiran kita?

Apakah rekan kerja, teman, dan orang-orang di sekitar kita menemukan penghiburan melalui ucapan kita?

Sebelum berbicara, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kata-kata ini akan membangun atau meruntuhkan?

Apakah ucapan ini akan mendekatkan seseorang kepada kasih Allah atau justru menjauhkannya?

Dari hati yang dipenuhi kasih akan lahir kata-kata yang menguatkan.
Dari hati yang dipenuhi anugerah akan lahir perkataan yang membawa harapan.

Dan dari hati yang dipenuhi Roh Tuhan akan mengalir ucapan yang menjadi pohon kehidupan bagi banyak orang.