
Amsal 16:5
Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.
Kesombongan sering datang tanpa suara. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kata-kata besar atau tindakan sombong yang mencolok.
Kadang ia hadir diam-diam di dalam hati.
Saat kita mulai merasa lebih rohani dari orang lain.
Saat kita sulit menerima teguran.
Saat kita merasa keberhasilan terjadi karena kekuatan diri sendiri.
Bahkan saat kita mulai merasa tidak terlalu membutuhkan Tuhan seperti dahulu.
Itulah sebabnya Amsal 16:5 begitu keras bunyinya.
Tuhan tidak sekadar “tidak menyukai” kesombongan. Firman Tuhan berkata bahwa kesombongan adalah kekejian bagi-Nya.
Ini menunjukkan betapa seriusnya dosa hati yang meninggikan diri.
Mengapa Tuhan begitu membenci kesombongan?
Karena kesombongan membuat manusia mengambil tempat yang seharusnya milik Tuhan.
Kesombongan berkata, “Aku mampu sendiri.” Kesombongan membuat manusia berhenti bersandar dan mulai mengandalkan dirinya sendiri.
Padahal setiap napas, kesempatan, kemampuan, dan keberhasilan adalah anugerah Tuhan.
Sering kali keberhasilan justru menjadi ujian terbesar kerohanian seseorang.
Ketika hidup sulit, kita mudah berlutut dan berdoa. Tetapi ketika semuanya berjalan baik, hati perlahan bisa berubah.
Kita mulai merasa aman karena kekuatan sendiri. Kita mulai kehilangan rasa bergantung kepada Tuhan.
Di titik itulah kesombongan mulai tumbuh.
Kesombongan juga dapat menyelinap dalam pelayanan.
Seseorang bisa melayani Tuhan, tetapi diam-diam mencari pujian manusia.
Bisa berkhotbah, bernyanyi, memimpin, atau bekerja bagi Tuhan, namun hati mulai menikmati pengakuan lebih daripada hadirat Tuhan sendiri.
Dari luar terlihat rohani, tetapi di dalam hati mulai meninggikan diri.
Karena itu kerendahan hati harus terus dijaga.
Kerendahan hati bukan berarti merasa diri tidak berharga.
Kerendahan hati adalah menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat melakukan apa-apa.
Orang rendah hati tetap bisa berhasil, tetap bisa dipakai Tuhan, tetap bisa memiliki kemampuan besar, tetapi ia sadar semua itu hanyalah titipan anugerah.
Yesus sendiri memberi teladan terbesar tentang kerendahan hati.
Walaupun Ia adalah Tuhan, Ia rela datang sebagai manusia, melayani, bahkan membasuh kaki murid-murid-Nya.
Dunia mengajarkan kita untuk terus meninggikan diri, tetapi Kerajaan Allah justru mengajarkan untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan.
Hari ini, mari memeriksa hati kita dengan jujur.
Apakah ada area hidup di mana kita mulai merasa lebih hebat dari orang lain?
Apakah ada keberhasilan yang membuat kita lupa bersyukur?
Apakah ada pelayanan yang membuat kita haus pujian?
Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna, tetapi Tuhan berkenan kepada hati yang rendah dan mau dibentuk.
Semakin seseorang dekat dengan Tuhan, seharusnya semakin ia sadar betapa besar anugerah Tuhan dalam hidupnya.
Orang yang benar-benar mengenal Tuhan tidak akan mudah meninggikan diri, sebab ia tahu semua yang baik berasal dari tangan Tuhan.
Kesombongan membuat manusia menjauh dari Tuhan, tetapi kerendahan hati membuka jalan bagi anugerah-Nya.
