
Amsal 15:5
Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.
Tidak ada orang yang secara alami suka ditegur. Bahkan, sering kali teguran terasa menyakitkan, memalukan, atau mengganggu harga diri.
Kita cenderung ingin membela diri, menjelaskan alasan, atau bahkan menghindari orang yang menegur kita.
Namun Amsal 15:5 membuka perspektif yang berbeda: cara kita merespons teguran justru menunjukkan kualitas hati kita.
Orang bodoh, menurut ayat ini, bukan sekadar orang yang kurang pengetahuan. Ia adalah orang yang menolak didikan.
Artinya, ia menutup pintu terhadap pertumbuhan. Ia merasa sudah cukup benar, sudah cukup tahu, atau tidak mau diubah. Dalam jangka panjang, sikap seperti ini membuat seseorang stagnan, bahkan bisa jatuh dalam kesalahan yang sama berulang kali.
Sebaliknya, orang bijak bukan berarti orang yang tidak pernah salah. Justru orang bijak adalah orang yang mau dikoreksi ketika ia salah. Ia tidak melihat teguran sebagai serangan, tetapi sebagai kesempatan untuk bertumbuh.
Ia tidak fokus pada siapa yang menyampaikan teguran, tetapi pada kebenaran yang bisa dipetik dari teguran tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, teguran bisa datang dari berbagai arah. Bisa dari orang tua, pasangan, pemimpin, teman, bahkan dari orang yang mungkin kita anggap kurang layak menegur kita.
Di sinilah tantangannya. Apakah kita hanya mau menerima teguran dari orang yang kita hormati, atau kita juga bersedia belajar dari siapa pun?
Sering kali Tuhan memakai teguran sebagai alat untuk membentuk karakter kita.
Tanpa teguran, kita bisa menjadi pribadi yang keras kepala dan tidak peka terhadap kesalahan sendiri. Teguran menolong kita melihat titik buta yang tidak kita sadari.
Namun menerima teguran membutuhkan kerendahan hati. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat, tetapi kesadaran bahwa kita masih dalam proses.
Kita belum sempurna, dan kita masih membutuhkan pembentukan Tuhan.
Ada juga sisi praktis yang penting. Tidak semua teguran disampaikan dengan cara yang sempurna.
Kadang teguran disampaikan dengan nada yang salah atau waktu yang kurang tepat.
Tetapi orang bijak tidak langsung menolak hanya karena cara penyampaiannya. Ia tetap mencari kebenaran di dalamnya.
Ketika kita mulai belajar menerima teguran dengan hati terbuka, kita akan melihat perubahan besar dalam hidup kita. Kita menjadi lebih mudah bertumbuh, lebih cepat belajar, dan lebih peka terhadap kehendak Tuhan.
Relasi kita dengan orang lain pun menjadi lebih sehat, karena kita tidak lagi defensif setiap kali dikoreksi.
Sebaliknya, jika kita terus menolak didikan, kita perlahan membangun tembok di sekitar diri kita sendiri. Kita menjadi sulit diajar, sulit berubah, dan akhirnya sulit dipakai Tuhan secara maksimal.
Amsal 15:5 mengundang kita untuk mengevaluasi diri. Bukan seberapa sering kita menegur orang lain, tetapi bagaimana kita merespons ketika kita ditegur.
Apakah kita langsung menolak? Atau kita berhenti sejenak, merenung, dan bertanya: “Tuhan, apa yang Engkau mau ajarkan melalui ini?”
Hidup yang mau dibentuk adalah hidup yang terbuka terhadap koreksi. Dan hidup seperti itulah yang akan terus bertumbuh dalam hikmat.
Hikmat sejati terlihat dari hati yang mau dikoreksi, bukan dari merasa selalu benar.
