
Amsal 19:10
Tidaklah pantas bagi orang bebal hidup dalam kemewahan, apalagi bagi seorang budak memerintah para pembesar.
Di zaman sekarang, banyak orang berdoa agar Tuhan membuka pintu kesempatan.
Ada yang ingin dipromosikan di tempat kerja.
Ada yang ingin usahanya berkembang.
Ada yang ingin dipercaya memimpin pelayanan.
Ada pula yang berharap memperoleh kekayaan yang lebih besar.
Semua itu adalah doa yang baik.
Namun sering kali kita hanya berfokus pada hasil akhirnya, sementara Tuhan justru sedang bekerja pada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu karakter kita.
Amsal 19:10 mengingatkan bahwa tidak semua orang siap menerima apa yang mereka inginkan.
Masalah terbesar bukanlah ketika seseorang belum memiliki kekayaan atau jabatan, tetapi ketika ia menerimanya sebelum memiliki hikmat untuk mengelolanya.
Banyak orang berpikir bahwa uang akan membuat hidup lebih baik.
Padahal uang hanya memperbesar siapa diri kita sebenarnya.
Jika seseorang murah hati, ia akan semakin murah hati ketika kaya.
Tetapi jika seseorang tamak, kekayaan hanya akan membuat ketamakannya semakin besar.
Demikian pula dengan jabatan.
Jabatan tidak mengubah karakter seseorang. Jabatan hanya memperlihatkan karakter yang selama ini tersembunyi.
Karena itu Tuhan sering kali bekerja lebih lama membentuk hati seseorang daripada memberikan keberhasilan yang ia minta.
Kita mungkin merasa Tuhan lambat menjawab doa. Padahal Tuhan sedang mengerjakan fondasi yang kuat agar ketika berkat itu datang, kita tidak hancur oleh berkat itu sendiri.
Bayangkan sebuah gedung bertingkat. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, semakin dalam pula fondasinya harus digali.
Orang yang melihat dari luar mungkin mengira tidak ada kemajuan karena yang terlihat hanyalah tanah yang terus digali.
Namun justru di sanalah pekerjaan terpenting sedang berlangsung.
Demikian pula dalam kehidupan rohani. Sebelum Tuhan meninggikan seseorang, Ia terlebih dahulu memperdalam kerendahan hati, kesabaran, integritas, dan ketergantungannya kepada Tuhan.
Tidak sedikit orang yang kehilangan pelayanan karena kesombongan.
Ada yang kehilangan keluarga karena tidak mampu mengendalikan kekuasaan.
Ada pula yang kehilangan kesaksian karena uang lebih menguasai dirinya daripada ia menguasai uang.
Semua itu menunjukkan bahwa kapasitas karakter lebih penting daripada kapasitas kemampuan.
Sebaliknya, orang yang setia dalam perkara kecil sedang dipersiapkan Tuhan untuk perkara yang lebih besar.
Ia belajar bertanggung jawab ketika tidak ada yang melihat.
Ia belajar jujur ketika tidak ada yang memeriksa.
Ia belajar rendah hati ketika tidak mendapatkan pujian.
Semua proses itu mungkin terasa biasa saja, tetapi justru itulah sekolah Tuhan untuk membentuk pemimpin yang dapat dipercaya.
Yesus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Sebelum pelayanan-Nya dikenal banyak orang, Ia hidup selama puluhan tahun dalam ketaatan yang sederhana di Nazaret.
Sebelum menerima kemuliaan, Ia terlebih dahulu menunjukkan kerendahan hati dan ketaatan sampai mati di kayu salib.
Jalan Tuhan selalu dimulai dari pembentukan karakter sebelum pengangkatan.
Hari ini mungkin Anda sedang menunggu jawaban doa yang belum juga datang.
Jangan langsung menganggap Tuhan menunda tanpa alasan.
Mungkin Ia sedang membentuk sesuatu yang jauh lebih berharga daripada apa yang sedang Anda minta.
Ketika karakter dibentuk terlebih dahulu, berkat akan menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan, bukan menjadi penyebab kejatuhan.
Karena itu, jangan hanya berdoa, “Tuhan, berikan aku promosi.” Berdoalah juga, “Tuhan, jadikan aku pribadi yang layak menerima tanggung jawab itu.”
Jangan hanya meminta kekayaan, tetapi mintalah hikmat untuk mengelolanya.
Jangan hanya mengejar posisi, tetapi kejarlah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Pada akhirnya, Tuhan tidak sedang mencari orang yang paling berbakat. Ia mencari orang yang dapat dipercaya.
Ketika karakter kita telah siap, Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk mempercayakan lebih banyak kepada kita.
Apa yang Tuhan berikan kepada orang yang berhikmat akan menjadi berkat, tetapi apa yang diberikan kepada orang yang bebal justru dapat menjadi sumber kehancuran.
Karena itu, biarlah fokus hidup kita bukan sekadar mengejar kesempatan, melainkan terus bertumbuh menjadi pribadi yang layak dipakai oleh Tuhan.
Karakter yang dibentuk Tuhan hari ini adalah fondasi bagi berkat yang akan dipercayakan-Nya esok hari.