
Amsal 9:1-2
Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya, memotong ternaknya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya.
Ada banyak undangan dalam hidup ini. Undangan untuk berhasil, untuk mengejar mimpi, untuk mencari kebahagiaan menurut versi dunia.
Namun di tengah semua itu, ada satu undangan yang sering kali kita abaikan—undangan dari hikmat Tuhan.
Amsal 9 melukiskan sesuatu yang sangat indah: hikmat tidak diam. Hikmat membagikan undangan.
Hikmat tidak menunggu kita tersesat terlalu jauh baru berbicara.
Sebaliknya, hikmat sudah lebih dulu membangun rumah, menyiapkan segala sesuatu, dan membuka pintu lebar-lebar. Semua sudah siap. Tidak ada yang kurang.
Sering kali kita berpikir bahwa hidup berhikmat itu sulit, kaku, atau membatasi. Padahal gambaran yang diberikan firman Tuhan justru sebaliknya.
Hikmat menyediakan “hidangan.” Artinya, hidup dalam hikmat justru membawa kepuasan, sukacita, dan kelimpahan yang sejati.
Masalahnya bukan pada hikmat yang tidak tersedia, tetapi pada hati kita yang tidak datang.
Ada orang yang lebih memilih “jalan cepat” daripada jalan benar. Ada yang tahu apa yang benar, tetapi menundanya. Ada juga yang merasa dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak merasa perlu datang kepada hikmat Tuhan.
Tanpa disadari, mereka sedang menolak undangan yang paling penting dalam hidup.
Hikmat Tuhan membangun “rumah dengan tujuh tiang”—suatu gambaran kestabilan yang sempurna.
Berbeda dengan banyak hal di dunia ini yang terlihat menarik tetapi rapuh, hikmat memberikan dasar yang tidak mudah goyah.
Hidup yang dibangun di atas hikmat mungkin tidak selalu terlihat spektakuler, tetapi akan tetap berdiri saat badai datang.
Bayangkan sebuah meja yang sudah ditata lengkap—makanan tersedia, tempat duduk sudah siap, dan tuan rumah menunggu dengan penuh kasih. Itulah gambaran hati Tuhan melalui hikmat-Nya.
DIA tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia tidak menuntut kita membawa sesuatu, tetapi meminta kita datang dengan kerendahan hati.
Hari ini, pertanyaannya sederhana: apakah kita mau datang?
Datang berarti membuka hati untuk diajar.
Datang berarti mengakui bahwa kita membutuhkan tuntunan Tuhan.
Datang berarti memilih jalan yang mungkin tidak selalu mudah, tetapi pasti benar.
Jangan menunda undangan itu. Karena setiap hari kita sebenarnya sedang memilih—apakah kita akan duduk di meja hikmat, atau berjalan sendiri dengan pengertian kita yang terbatas.
Yang tersisa hanyalah respon kita.
Hidup yang dibangun di atas hikmat mungkin tidak selalu terlihat spektakuler, tetapi akan tetap berdiri saat badai datang.