Belajar Terima Teguran Sebelum Terlambat


Orang yang berkali-kali diperingatkan, tetapi yang mengeraskan tengkuknya, akan tiba-tiba dipatahkan tanpa dapat dipulihkan lagi.


Biasanya semuanya dimulai dari hal kecil: tidak mau dinasihati, tidak mau ditegur, tidak mau mengakui kesalahan. Lama-lama hati menjadi keras. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau berubah.

Seringkali Tuhan menegur kita dengan berbagai cara. Kadang melalui firman Tuhan yang kita baca. Kadang melalui khotbah. Kadang melalui pasangan, teman, atau pemimpin rohani.

Kadang bahkan melalui masalah, kegagalan, atau pintu yang tertutup dalam hidup kita.

Semua itu bisa menjadi cara Tuhan mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Kita sering berdoa minta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan sebenarnya sedang meminta kita yang berubah. Kita minta Tuhan memberkati jalan kita, tetapi Tuhan ingin kita kembali ke jalan yang benar.

Kita suka tidak sadar bahwa hati yang keras adalah hati yang selalu punya alasan.   Selalu merasa diri benar. Selalu menyalahkan orang lain. Selalu berkata, “Memang saya begini orangnya.”

Lama-lama orang seperti ini berhenti bertumbuh. Hidupnya tidak berubah, karakternya tidak berubah, dan akhirnya masalah demi masalah datang karena keputusan yang sama terus diulang.

Alkitab tidak mengatakan orang ini tidak pernah diperingatkan.  Justru sebaliknya, ia berkali-kali diperingatkan. Artinya Tuhan itu sabar. Tuhan memberi kesempatan lagi dan lagi.

Tuhan tidak langsung menghukum. Tuhan menegur dulu. Tuhan mengingatkan dulu. Tuhan menunggu pertobatan.

Setiap kali menolak teguran, hati menjadi sedikit lebih keras. Setiap kali menolak nasihat, telinga menjadi sedikit lebih tertutup. Sampai suatu hari, ia tidak bisa lagi mendengar. Bukan karena tidak ada yang menegur, tetapi karena hatinya sudah tidak bisa menerima.

Hidup yang berhikmat bukan hidup yang tidak pernah salah. Hidup yang berhikmat adalah hidup yang mau ditegur, mau dikoreksi, mau belajar, dan mau berubah. Orang berhikmat tidak selalu benar, tetapi ia selalu mau diperbaiki.

Orang yang dewasa rohani bisa berkata, “Ya, saya salah.” “Terima kasih sudah mengingatkan.” “Saya akan belajar berubah.” Kalimat-kalimat seperti ini menunjukkan hati yang lembut di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi Tuhan mencari orang yang hatinya bisa diajar. Hati yang lembut bisa dibentuk. Hati yang rendah bisa diarahkan.

Tetapi hati yang keras sulit ditolong, bukan karena Tuhan tidak bisa, tetapi karena orang itu tidak mau.

Mungkin itu cara Tuhan menyelamatkan kita dari masalah yang lebih besar di depan. Teguran seringkali adalah bentuk kasih Tuhan yang tidak kita sukai, tetapi sangat kita butuhkan.

Lebih baik sakit karena teguran hari ini daripada hancur karena keras kepala di kemudian hari. Lebih baik direndahkan sekarang daripada jatuh nanti. Lebih baik berubah sekarang daripada menyesal ketika semuanya sudah terlambat.

Mintalah kepada Tuhan hati yang lembut, hati yang bisa diajar, hati yang mau berubah. Karena masa depan yang baik seringkali dimulai dari satu hal sederhana: mau mendengar teguran.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *