
Amsal 30:20
Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka mulutnya, dan berkata: Aku tidak berbuat jahat.
Ada satu keadaan yang lebih berbahaya daripada jatuh ke dalam dosa, yaitu tidak lagi merasa bahwa dosa itu adalah dosa.
Itulah yang digambarkan dengan sangat sederhana namun menggetarkan dalam Amsal 30:20.
Setelah melakukan kesalahan, perempuan itu hanya menyeka mulutnya, lalu berkata, “Aku tidak berbuat jahat.”
Seolah-olah semua telah selesai, tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan.
Begitulah cara dosa bekerja.
Pada awalnya, hati nurani masih menegur.
Kita merasa gelisah ketika berbohong, marah, iri hati, atau hidup tidak jujur.
Namun jika teguran itu terus diabaikan, hati menjadi semakin kebal.
Apa yang dahulu terasa salah, lama-kelamaan dianggap biasa.
Apa yang dahulu membuat kita malu di hadapan Tuhan, akhirnya dapat dilakukan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dunia modern justru mendorong cara berpikir seperti ini.
Banyak orang tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar di hadapan Tuhan?”
Sebaliknya, mereka bertanya,
“Apakah ini membuatku bahagia?”,
“Apakah semua orang juga melakukannya?”, atau
“Selama tidak ketahuan, apa masalahnya?”
Standar kebenaran perlahan bergeser dari firman Tuhan kepada pendapat manusia.
Padahal, hati nurani yang tenang belum tentu berarti hidup kita benar.
Hati nurani bisa menjadi tumpul apabila terus-menerus mengabaikan suara Roh Kudus.
Itulah sebabnya kita tidak boleh menjadikan perasaan sebagai ukuran utama.
Firman Tuhanlah yang menjadi standar kebenaran.
Perempuan dalam ayat ini mungkin berhasil menipu orang lain. Bahkan mungkin ia berhasil menipu dirinya sendiri.
Namun ia tidak pernah berhasil menipu Tuhan.
Tuhan melihat apa yang tersembunyi. Ia mengetahui setiap pikiran, motivasi, dan keputusan yang tidak diketahui siapa pun.
Tidak ada topeng yang dapat menyembunyikan keadaan hati kita dari-Nya.
Renungan ini mengajak kita melakukan pemeriksaan diri dengan jujur.
Mungkin kita tidak jatuh dalam dosa seperti contoh yang disebutkan di ayat ini, tetapi apakah ada dosa lain yang mulai kita anggap biasa?
Mungkin kita membenarkan kemarahan karena merasa diperlakukan tidak adil.
Mungkin kita menganggap gosip sebagai percakapan biasa.
Mungkin kita tidak jujur dalam pekerjaan, tetapi berkata bahwa semua orang juga melakukannya.
Atau mungkin kita mulai mengabaikan kehidupan doa dan firman karena merasa iman kita masih baik-baik saja.
Setiap kali kita membenarkan dosa, kita sedang mengambil satu langkah menjauh dari Tuhan.
Sebaliknya, setiap kali kita mengakui dosa, kita sedang membuka pintu bagi kasih karunia-Nya untuk memulihkan hidup kita.
Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna, tetapi hati yang rendah dan mau bertobat. Pengakuan dosa bukanlah tanda kelemahan, melainkan awal dari pemulihan.
Raja Daud pernah jatuh dalam dosa yang besar.
Namun yang membedakannya bukan karena ia tidak pernah bersalah, melainkan karena ketika ditegur, ia berkata, “Aku telah berdosa kepada TUHAN.”
Daud tidak berusaha menyeka mulutnya dan berkata bahwa ia tidak melakukan kejahatan.
Ia datang dengan hati yang hancur, dan di sanalah belas kasihan Tuhan dinyatakan.
Karena itu, jangan biarkan hati kita menjadi kebal terhadap dosa.
Mintalah Roh Kudus terus melembutkan hati kita sehingga kita tetap peka terhadap teguran firman.
Lebih baik menangis karena pertobatan hari ini daripada suatu hari nanti menyesal karena hati kita telah begitu keras sehingga tidak lagi mampu mendengar suara Tuhan.
Dosa yang paling berbahaya bukanlah yang disembunyikan dari manusia, melainkan yang dibenarkan oleh hati sendiri.
