
Amsal 29:13
Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata kedua orang itu bersinar.
Dalam kehidupan ini, sangat mudah menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak di luar.
Kita menghormati orang yang memiliki jabatan tinggi, kekayaan melimpah, atau pengaruh besar.
Sebaliknya, mereka yang hidup dalam keterbatasan sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama. Dunia mengukur nilai seseorang berdasarkan apa yang dimilikinya.
Namun Amsal 29:13 mengajak kita melihat manusia melalui sudut pandang Allah.
Salomo mempertemukan dua pribadi yang tampaknya tidak mungkin disamakan: si miskin dan si penindas.
Yang satu menjadi korban keadaan, sementara yang lain sering menjadi penyebab penderitaan orang lain.
Tetapi di balik semua perbedaan itu, ada satu fakta yang tidak berubah: Tuhan membuat mata keduanya bersinar.
Setiap pagi ketika kita membuka mata, sesungguhnya kita sedang menerima anugerah yang baru.
Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin dirinya akan bangun esok hari.
Faktanya semua orang adalah sama. Nafas yang kita hirup, jantung yang terus berdetak, mata yang masih dapat melihat, semuanya adalah pemberian Tuhan.
Ironisnya, manusia sering melupakan kenyataan ini.
Ketika memiliki kekuasaan, kita mulai merasa mampu mengendalikan hidup sendiri.
Ketika memiliki banyak harta, kita mulai berpikir bahwa keamanan berasal dari rekening bank atau investasi.
Sedikit demi sedikit, hati menjadi sombong dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Padahal Alkitab mengingatkan bahwa bahkan seorang penindas pun tetap hidup hanya karena Tuhan masih mengizinkannya hidup.
Kesabaran Allah bukan berarti Ia menyetujui kejahatan, tetapi menunjukkan betapa besar kemurahan-Nya. Allah masih memberikan kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat.
Sebaliknya, bagi mereka yang hidup dalam kesulitan, ayat ini menjadi penghiburan yang indah.
Mungkin dunia menganggap kita kecil dan tidak berarti.
Mungkin orang lain tidak menghargai keberadaan kita.
Tetapi Tuhan melihat kita.
Dia yang membuat mata orang kaya bersinar adalah Tuhan yang sama yang membuat mata orang miskin tetap bersinar.
Kasih dan pemeliharaan-Nya tidak dibatasi oleh status sosial.
Kesadaran ini seharusnya mengubah cara kita memperlakukan sesama.
Jika Tuhan memberi kehidupan kepada setiap orang, maka setiap orang layak diperlakukan dengan hormat.
Kita tidak boleh merendahkan orang yang lebih lemah, karena mereka sama-sama hidup oleh anugerah Allah.
Kita juga tidak perlu iri kepada mereka yang memiliki lebih banyak, sebab hidup mereka pun sepenuhnya bergantung kepada Tuhan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dengan kerendahan hati.
Apa pun posisi kita hari ini—pemimpin atau bawahan, kaya atau sederhana, terkenal atau tidak dikenal—kita semua berdiri di atas dasar yang sama, yaitu anugerah Allah.
Tidak ada satu detik pun kehidupan yang kita miliki tanpa pemeliharaan-Nya.
Hari ini, ketika mata kita masih dapat melihat terang, jangan hanya menggunakannya untuk mengejar kepentingan diri sendiri.
Gunakan mata yang telah “dibuat bersinar” oleh Tuhan untuk melihat kebutuhan orang lain, mengenali karya-Nya, dan memandang hidup dengan rasa syukur.
Selama Tuhan masih membuat mata kita bersinar, berarti Dia masih memberi kesempatan untuk hidup benar, mengasihi sesama, dan memuliakan nama-Nya.
Mata kita tetap bersinar bukan karena kekuatan kita, melainkan karena Tuhan masih berkenan memberi kehidupan.
