
Amsal 18:11
Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.
Rasa aman merupakan kebutuhan setiap manusia. Karena itu, kita berusaha membangun berbagai “benteng” dalam kehidupan.
Ada yang merasa aman karena memiliki tabungan yang besar, investasi yang berkembang, bisnis yang stabil, pekerjaan yang mapan, atau aset yang terus bertambah.
Semua itu bukanlah sesuatu yang salah.
Alkitab pun tidak pernah melarang seseorang bekerja keras atau memiliki kekayaan.
Namun Amsal 18:11 mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara memiliki harta dan mengandalkan harta.
Salomo menggambarkan bagaimana orang kaya memandang kekayaannya sebagai sebuah kota yang kuat dengan tembok yang tinggi.
Pada zaman itu, kota bertembok merupakan simbol keamanan. Semakin tinggi dan tebal temboknya, semakin sulit kota itu ditaklukkan oleh musuh.
Orang-orang di dalamnya merasa tenang karena percaya tidak ada yang dapat menjangkaunya.
Namun Salomo menyisipkan satu frasa yang sangat penting, yaitu “menurut anggapannya.”
Kalimat pendek ini mengubah seluruh makna ayat. Harta memang dapat memberikan kenyamanan, tetapi tidak pernah dapat memberikan jaminan mutlak.
Kekayaan hanya menciptakan perasaan aman, bukan keamanan yang sesungguhnya.
Kenyataannya, kehidupan sering membuktikan bahwa uang memiliki batas.
Harta tidak dapat menghentikan penyakit yang datang tanpa diduga.
Kekayaan tidak mampu membeli waktu ketika umur seseorang telah mencapai akhirnya.
Uang juga tidak selalu dapat memperbaiki hubungan keluarga yang rusak, menghilangkan rasa takut, atau memberikan damai sejahtera di dalam hati.
Bahkan dalam hitungan hari, kondisi ekonomi dapat berubah, investasi dapat merosot, usaha dapat mengalami kerugian, atau bencana dapat menghapus apa yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Karena itu, Salomo sedang mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh benteng yang dibangunnya sendiri.
Menariknya, ayat ini berada tepat setelah Amsal 18:10 yang menyatakan bahwa Nama TUHAN adalah menara yang kuat.
Susunan kedua ayat ini sengaja dibuat sebagai sebuah perbandingan. Orang benar berlari kepada Tuhan dan benar-benar menemukan perlindungan.
Sebaliknya, orang yang mengandalkan kekayaan hanya memiliki benteng yang kokoh di dalam pikirannya sendiri.
Yang satu adalah kenyataan, sedangkan yang lain hanyalah persepsi.
Prinsip ini juga diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dalam Matius 6:19-21, Yesus mengingatkan agar kita tidak mengumpulkan harta di bumi sebagai pusat kehidupan.
Bukan karena harta itu jahat, melainkan karena harta bersifat sementara.
Di sisi lain, hubungan dengan Tuhan bersifat kekal. Apa yang kita simpan di dunia dapat hilang, tetapi apa yang kita percayakan kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk bekerja dengan rajin, mengelola keuangan dengan bijaksana, menabung, merencanakan masa depan, bahkan menikmati berkat yang Tuhan berikan.
Semua itu adalah bagian dari penatalayanan yang baik. Namun, hati kita tidak boleh berpindah dari Sang Pemberi berkat kepada berkat itu sendiri.
Salah satu tanda bahwa seseorang mulai mengandalkan harta adalah ketika damai sejahteranya bergantung pada angka di rekeningnya.
Ketika saldo bertambah ia merasa tenang, tetapi ketika berkurang ia kehilangan pengharapan.
Sebaliknya, orang yang mengandalkan Tuhan tetap dapat memiliki damai sejahtera, baik dalam kelimpahan maupun kekurangan, karena ia tahu bahwa sumber hidupnya bukanlah kekayaannya, melainkan Allah yang memelihara hidupnya setiap hari.
Harta dapat menopang hidup untuk sementara, tetapi hanya Tuhan yang sanggup menopang hidup untuk selamanya.
