Tidak Terus Mengungkit Luka

Tidak Terus Mengungkit Luka


Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.


Tidak ada persahabatan yang sempurna.
Tidak ada keluarga tanpa gesekan.
Tidak ada pelayanan tanpa kekecewaan.

Bahkan orang-orang yang sangat mengasihi kita pun kadang bisa berkata salah, bertindak salah, atau mengecewakan hati kita.

Pertanyaannya bukan apakah kita akan terluka, tetapi bagaimana kita merespons luka itu.

Setiap kali bertengkar, semua kesalahan lama kembali dikeluarkan. Kata-kata yang dulu sudah lewat diangkat lagi. Luka yang hampir sembuh dibuka kembali.

Akibatnya, hubungan menjadi lelah. Dekat secara fisik, tetapi jauh secara hati.

Kasih sejati tidak menikmati membuka aib orang lain.
Kasih tidak mencari kesempatan untuk mempermalukan.
Kasih memilih memulihkan daripada menghancurkan.

Ini bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa kesalahan tidak pernah terjadi.

Ada saatnya masalah perlu dibicarakan dengan jujur.
Ada waktu untuk menegur dengan kasih.

Namun setelah pengampunan diberikan, jangan terus menjadikan masa lalu sebagai senjata.

Sebab hubungan tidak mungkin bertumbuh jika hati terus hidup dalam arsip luka.

Padahal sebenarnya, itu perlahan menghancurkan hubungan yang sedang kita pertahankan.

Satu kalimat tajam dapat merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Tidak heran Amsal berkata bahwa orang yang terus membangkit-bangkit perkara dapat “menceraikan sahabat yang karib.”

Ketika kita datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia mengampuni dosa kita dan tidak terus-menerus melemparkannya kembali ke wajah kita.

Mazmur berkata bahwa Tuhan menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat. Kasih karunia-Nya memberi kita kesempatan baru.

Karena itu, orang percaya dipanggil untuk memiliki hati yang sama. Bukan hati yang mudah menyimpan dendam, tetapi hati yang rela memberi ruang bagi pemulihan.

Ada hubungan yang sebenarnya bisa dipulihkan, jika salah satu pihak berhenti terus mengungkit masa lalu.

Ada keluarga yang bisa kembali hangat, jika seseorang memilih merendahkan hati dan melepaskan kepahitan.

Dunia mengajarkan untuk membayar kesalahan orang lain. Tetapi Tuhan mengajarkan untuk mengejar kasih.

Hari ini, mungkin ada nama yang langsung muncul di pikiranmu.

Mungkin ada seseorang yang pernah melukai hatimu, dan sampai sekarang kenangannya masih sering diungkit dalam hati.

Mintalah Tuhan menolongmu melepaskan beban itu.

Sebab sering kali, orang yang paling terpenjara oleh kepahitan adalah diri kita sendiri.

Biarlah hikmat Tuhan mengajar kita menjaga hubungan dengan kasih yang dewasa. Tidak menutupi dosa demi kompromi, tetapi juga tidak memelihara luka demi kepuasan diri.

Sebab kasih sejati tidak hidup dari mengungkit masa lalu, melainkan dari keberanian untuk memulihkan masa depan.