
Amsal 6:12-14
Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong, yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari,
Ada banyak orang berpikir bahwa dosa selalu terlihat besar dan jelas.
Orang biasanya membayangkan dosa sebagai pencurian, kebohongan besar, atau kejahatan yang nyata. Tetapi kitab Amsal menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Dosa sering dimulai dari hal-hal kecil, dari sikap hati, dari cara kita memandang orang lain, dari niat yang tersembunyi, dan dari rencana yang tidak diketahui siapa pun selain diri kita sendiri dan Tuhan.
Amsal menggambarkan orang fasik dengan cara yang menarik. Bukan langsung dengan perbuatannya, tetapi dengan gerakan kecil: kedipan mata, gerakan kaki, isyarat jari.
Ini seperti menggambarkan seseorang yang licik, yang memberi kode rahasia, yang merencanakan sesuatu di belakang orang lain.
Gambaran ini menunjukkan bahwa kejahatan sering dilakukan secara tersembunyi, tidak terang-terangan, tetapi diam-diam.
Namun bagian yang paling penting dari ayat ini bukan pada kedipan mata atau gerakan kaki, tetapi pada kalimat ini: “yang hatinya merencanakan kejahatan.”
Di sinilah akar masalahnya. Semua dosa selalu dimulai dari hati.
Sebelum seseorang berbuat jahat, ia sudah memikirkannya.
Sebelum seseorang menyakiti orang lain, ia sudah menyimpannya di dalam hati.
Sebelum seseorang menimbulkan pertengkaran, ia sudah merencanakannya dalam pikirannya.
Inilah sebabnya Alkitab sering berbicara tentang menjaga hati. Karena hidup kita sebenarnya mengalir dari hati kita.
Jika hati kita penuh iri, kita akan mudah menjatuhkan orang lain.
Jika hati kita penuh kebencian, kita akan mudah melukai orang lain.
Jika hati kita penuh kesombongan, kita akan mudah merendahkan orang lain.
Tetapi jika hati kita penuh kasih, kita akan membangun orang lain. Jika hati kita penuh damai, kita akan membawa damai.
Ayat ini juga mengatakan bahwa orang seperti ini “menimbulkan pertengkaran senantiasa.”
Menarik sekali, karena orang yang hatinya tidak benar hampir selalu menjadi sumber konflik.
Di keluarga, di tempat kerja, di gereja, sering kali pertengkaran bukan karena masalah besar, tetapi karena ada seseorang yang suka memutar kata, menyebarkan cerita, memprovokasi, atau memanipulasi keadaan.
Orang seperti ini mungkin terlihat biasa saja di luar, tetapi hatinya tidak lurus.
Renungan ini sebenarnya mengajak kita bukan untuk melihat orang lain, tetapi untuk memeriksa hati kita sendiri.
Apakah kita pernah diam-diam merencanakan sesuatu yang tidak baik?
Apakah kita pernah senang melihat orang lain gagal?
Apakah kita pernah memutar cerita agar orang lain terlihat salah?
Apakah kita pernah menimbulkan konflik secara tidak langsung?
Jika iya, maka ayat ini sebenarnya sedang berbicara kepada kita.
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi Tuhan melihat hati kita.
Manusia melihat penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati. Karena itu kehidupan rohani bukan hanya soal terlihat baik di luar, tetapi memiliki hati yang lurus di hadapan Tuhan.
Mari belajar untuk memiliki hati yang bersih, hati yang tulus, hati yang tidak licik, hati yang tidak merencanakan kejahatan, tetapi hati yang merencanakan kebaikan.
Orang yang hidup benar bukan hanya orang yang tidak berbuat jahat, tetapi orang yang bahkan di dalam hatinya tidak merencanakan kejahatan. Inilah kehidupan hikmat yang sebenarnya
Dosa sering tidak dimulai dari tindakan, tetapi dari hati yang diam-diam merencanakan kejahatan.
