
Amsal 6:1-5
1 Hai anakku, jikalau engkau telah menjadi penanggung bagi sesamamu, dan telah memberikan tanganmu bagi orang lain,
2 kalau engkau terjerat oleh perkataan mulutmu, tertangkap oleh perkataan mulutmu,
3 buatlah begini, hai anakku, dan lepaskanlah dirimu, sebab engkau telah masuk ke dalam tangan sesamamu: pergilah, rendahkanlah dirimu, dan desaklah sesamamu itu;
4 janganlah membiarkan matamu tidur, dan kelopak matamu mengantuk;
5 lepaskanlah dirimu seperti kijang yang terlepas dari tangan pemburu, seperti burung yang terlepas dari tangan pemikat.
Kebaikan adalah nilai yang tinggi dalam kehidupan Kristen. Kita diajar untuk murah hati, menolong, dan peduli pada sesama.
Namun, Amsal 6 mengingatkan bahwa tidak semua tindakan baik dilakukan dengan cara yang bijak. Ada kebaikan yang lahir dari dorongan emosi, bukan dari pertimbangan hikmat.
Kebaikan yang tidak berhikmat bisa berubah menjadi beban yang menghancurkan.
Bayangkan seseorang yang menandatangani jaminan kredit untuk teman dekatnya. Awalnya tampak seperti tindakan setia dan penuh kasih. Tapi ketika temannya gagal membayar, penjaminlah yang dituntut, dan hubungan pun rusak.
Ini bukan hanya tentang uang; ini tentang tanggung jawab yang diambil tanpa berpikir matang. Salomo tahu betul bahaya ini, karena ia hidup di masyarakat di mana perjanjian semacam itu bisa menjerumuskan seseorang ke dalam perbudakan.
Perhatikan kata-kata “engkau telah terjerat oleh perkataan mulutmu.” Jerat itu bukan dipasang oleh orang lain, tetapi oleh diri sendiri.
Hikmat sering kali bukan soal menghindari kejahatan, tetapi mengenali bahaya yang tersembunyi di balik hal yang tampak baik.
Kita bisa terjebak oleh janji, oleh rasa tidak enak hati, atau keinginan untuk tampil setia. Namun, Amsal menasihati: segera lepaskan dirimu! Jangan menunda untuk memperbaiki keputusan yang salah.
Ada dua sikap yang ditekankan Salomo di sini: kerendahan hati dan ketegasan. “Rendahkanlah dirimu, dan desaklah sesamamu itu.”
Dalam konteks zaman itu, orang yang sudah menandatangani jaminan harus dengan rendah hati datang dan memohon agar dibebaskan dari kewajiban itu. Ini memerlukan keberanian untuk mengakui kesalahan, dan kerendahan hati untuk memperbaikinya.
Hikmat tidak pernah malu mengakui kekeliruan; ia tahu bahwa keangkuhan justru memperpanjang penderitaan.
Prinsip ini berlaku luas dalam hidup kita. Ada banyak bentuk “jaminan” modern yang menjerat kita: komitmen yang terlalu cepat diambil, janji yang tidak sanggup ditepati, bahkan hubungan di mana kita menanggung beban yang bukan tanggung jawab kita. Kadang kita berpikir, “Saya harus terus bertahan, agar tidak menyakiti orang itu.”
Namun, hikmat berkata: “Lepaskan dirimu.” Kasih sejati tidak selalu berarti berkata “ya”; terkadang kasih yang berhikmat justru berkata “tidak”.
Seperti kijang yang melompat cepat keluar dari jerat, kita dipanggil untuk segera bertindak begitu menyadari kesalahan. Jangan menunggu keadaan memburuk. Jangan biarkan rasa malu atau gengsi menunda langkah pembebasan.
Karena semakin lama kita diam, semakin kuat ikatan itu mengikat. Hikmat mengajarkan bahwa tanggung jawab utama kita adalah menjaga hidup yang merdeka dan bersih di hadapan Allah.
Tuhan ingin kita menjadi orang yang murah hati sekaligus berhikmat. Ia tidak menolak kebaikan hati, tetapi menuntun kita untuk menyalurkannya dengan cara yang benar.
Belas kasihan tanpa pertimbangan bisa menjadi jebakan, tetapi hikmat yang berbelas kasihan membawa damai. Jadilah seperti kijang—gesit melepaskan diri dari ikatan yang salah, dan berlari bebas di jalan hikmat Tuhan.
Kasih yang sejati selalu berjalan seiring dengan hikmat, bukan dengan kecerobohan.
