
Amsal 23:10-11
Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama dan memasuki ladang anak-anak yatim, karena Penebus mereka kuat, Dialah yang akan memperjuangkan perkara mereka melawan engkau.
Ada banyak hal dalam hidup yang pada dasarnya tidak salah, bahkan baik dan menyenangkan.
Masalahnya sering bukan pada hal itu sendiri, tetapi pada seberapa banyak dan seberapa jauh kita melakukannya.
Amsal 25:16 memberi gambaran sederhana tetapi sangat dalam: madu itu manis, tetapi jika terlalu banyak, justru membuat muntah.
Ini adalah prinsip hikmat tentang batas. Hidup yang berhikmat bukan hanya tahu mana yang benar dan salah, tetapi juga tahu kapan harus berhenti.
Banyak orang tidak jatuh karena hal yang jahat, tetapi karena hal yang baik yang dilakukan tanpa batas.
Makan itu baik, tetapi berlebihan menjadi kerakusan.
Bekerja itu baik, tetapi berlebihan menjadi kehilangan keluarga dan kesehatan.
Istirahat dan hiburan itu baik, tetapi berlebihan menjadi kemalasan.
Pelayanan itu baik, tetapi berlebihan tanpa istirahat bisa menjadi kelelahan dan kepahitan.
Hikmat bukan hanya soal melakukan hal yang benar, tetapi juga melakukan hal yang benar dengan ukuran yang benar.
Dunia sering mengajarkan bahwa lebih banyak selalu lebih baik. Lebih banyak uang, lebih banyak barang, lebih banyak hiburan, lebih banyak kesibukan.
Tetapi Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda: yang lebih penting bukan lebih banyak, tetapi cukup.
Kata “cukup” adalah kata yang sangat rohani.
Orang yang tidak pernah merasa cukup akan selalu merasa kurang, sekalipun memiliki banyak. Tetapi orang yang belajar merasa cukup akan selalu merasa diberkati, sekalipun hidup sederhana.
Banyak kelelahan hidup sebenarnya bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena hidup tanpa batas.
Tidak ada batas kerja, tidak ada batas keinginan, tidak ada batas ambisi, tidak ada batas konsumsi, tidak ada batas penggunaan waktu dan tenaga.
Akhirnya hidup menjadi seperti makan madu terlalu banyak — yang awalnya manis, akhirnya membuat muntah.
Hikmat mengajarkan ritme hidup: ada saat bekerja, ada saat berhenti; ada saat berbicara, ada saat diam; ada saat memberi, ada saat menerima; ada saat berjuang, ada saat beristirahat.
Orang berhikmat tahu bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan, dan tidak semua yang tersedia harus diambil.
Penguasaan diri adalah tanda kedewasaan rohani.
Bukan orang yang bisa memiliki banyak yang disebut kuat, tetapi orang yang bisa mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk mengambil lebih. Di situlah karakter terlihat.
Amsal ini juga mengajarkan tentang rasa puas. Jika seseorang tidak pernah belajar berkata “cukup”, maka ia tidak akan pernah merasa damai.
Selalu ada yang kurang, selalu ada yang dikejar, selalu ada yang diinginkan. Hidup menjadi perlombaan tanpa garis akhir.
Tetapi ketika seseorang belajar berkata, “Tuhan, ini cukup. Terima kasih untuk apa yang Engkau berikan,” di situlah damai mulai masuk ke dalam hati.
Hidup yang manis bukan hidup yang penuh segala hal, tetapi hidup yang tahu batas dan tahu bersyukur.
Seperti madu yang dimakan secukupnya — manis, menyenangkan, dan menyehatkan — demikian juga hidup yang dijalani dengan hikmat akan terasa manis dan damai.
Seringkali yang merusak hidup bukan kekurangan, tetapi kelebihan yang tidak dikendalikan. Karena itu Alkitab berulang kali menekankan penguasaan diri, kecukupan, dan hati yang puas.
Orang yang bisa mengendalikan diri akan bisa menikmati hidup lebih lama, lebih damai, dan lebih bersyukur.
Belajar hidup secukupnya bukan berarti hidup kekurangan, tetapi hidup dengan hikmat. Dan hikmat membuat hidup menjadi manis tanpa harus berlebihan.
Hidup yang manis bukan karena memiliki banyak, tetapi karena tahu kapan berkata cukup.