Teguran dan Kasih


Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya; kejamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya.


Namun, Amsal 9:8 mengingatkan kita bahwa cara seseorang menanggapi teguran mencerminkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Pencemooh adalah orang yang tertutup terhadap koreksi.  Ia bukan sekadar tidak tahu, tetapi menolak untuk tahu.  

Ia melihat teguran sebagai ancaman terhadap harga diri.  Setiap kata yang menyinggung kelemahannya dianggap penghinaan.  Ia membalas bukan dengan refleksi, tetapi dengan kebencian.

Itulah sebabnya Salomo berkata, “Janganlah tegur pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya.”  Bukan berarti orang bijak menyerah pada kebodohan, tetapi ia tahu kapan waktunya berhenti berbicara.  

Menegur pencemooh hanya akan memperkeruh suasana, karena hatinya belum siap menerima kebenaran.

Sebaliknya, orang bijak justru mengasihi orang yang menegurnya.  Ia tahu bahwa teguran adalah tanda perhatian, bukan permusuhan.  

Ia menyadari bahwa tanpa koreksi, ia bisa tersesat oleh kebanggaannya sendiri.  Ia tidak melihat teguran sebagai serangan, melainkan sebagai pertolongan Tuhan.

Dalam kehidupan rohani, cara kita menanggapi teguran menjadi ukuran sejauh mana kita membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita.  Tuhan sering memakai orang lain — teman, pemimpin rohani, bahkan keadaan — untuk menegur dan meluruskan langkah kita.  Namun, teguran hanya bermanfaat jika hati kita lembut.  

Sungguh menarik bahwa dalam Injil, Yesus sendiri juga menghadapi orang-orang pencemooh — ahli Taurat, orang Farisi, dan pemimpin agama yang menolak setiap teguran-Nya.  Mereka merasa diri paling benar dan tidak memerlukan perubahan.

Tetapi para murid, meski sering gagal, tetap terbuka terhadap teguran-Nya. Itulah sebabnya mereka bertumbuh.

Mungkin kita pun hari ini sedang berada di salah satu posisi itu.  Apakah kita seperti pencemooh yang marah ketika dikoreksi?  Atau seperti orang bijak yang belajar mengasihi mereka yang berani menegur kita?  

Teguran sering kali datang di saat yang tidak menyenangkan, melalui kata-kata yang keras atau situasi yang membuat malu.  Namun, jika kita berani berhenti sejenak dan merenungkan maksud di baliknya, kita akan melihat tangan Tuhan sedang membentuk kita.

Hikmat sejati tidak tumbuh dari pujian, melainkan dari koreksi yang diterima dengan kerendahan hati.  Orang bijak tidak selalu benar, tetapi ia selalu mau dibenarkan.  

Ia belajar untuk bersyukur bahkan kepada mereka yang menunjukkan kesalahannya, karena ia tahu bahwa setiap teguran adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Mungkin inilah yang Tuhan ingin tanamkan dalam hati kita hari ini: jangan takut ditegur, jangan cepat tersinggung, dan jangan buru-buru membela diri.  

Biarkan Roh Kudus memakai teguran untuk mengasah kita menjadi pribadi yang makin serupa dengan Kristus.  



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *