
Amsal 27:5
Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi dilema: apakah kita harus berkata jujur atau menjaga perasaan orang lain?
Banyak orang memilih diam. Mereka tidak ingin konflik.
Mereka tidak ingin dianggap menghakimi. Mereka tidak ingin merusak hubungan.
Tetapi diam bukan selalu pilihan yang benar.
Firman Tuhan mengatakan bahwa lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi.
Ini berarti ada bentuk “kasih” yang sebenarnya bukan kasih sama sekali, karena tidak berani bertindak ketika dibutuhkan.
Bayangkan seseorang yang kita kasihi sedang mengambil keputusan yang jelas-jelas akan merusak hidupnya. Jika kita benar-benar peduli, apakah kita akan diam saja?
Atau kita akan berbicara, walaupun itu berisiko membuat hubungan menjadi tegang?
Kasih sejati tidak hanya hadir dalam bentuk kenyamanan. Kasih sejati juga hadir dalam keberanian.
Keberanian untuk mengatakan kebenaran.
Keberanian untuk menegur dengan tujuan membangun.
Namun, penting untuk memahami bahwa teguran yang dimaksud dalam Amsal bukanlah kemarahan yang dilampiaskan atau kritik yang menjatuhkan.
Teguran yang benar lahir dari hati yang mengasihi. Nada dan motivasinya berbeda. Tujuannya bukan untuk menang, tetapi untuk memulihkan.
Seringkali, masalahnya bukan kita tidak tahu kebenaran, tetapi kita takut menyampaikannya.
Kita khawatir ditolak.
Kita takut disalahpahami.
Kita takut kehilangan hubungan.
Tetapi ayat ini mengingatkan bahwa kasih yang sejati justru rela mengambil risiko demi kebaikan orang lain.
Di sisi lain, kita juga perlu belajar menerima teguran.
Tidak semua teguran nyaman didengar. Bahkan seringkali terasa menyakitkan. Tetapi jika itu disampaikan dengan kasih dan kebenaran, itu adalah anugerah.
Tidak semua orang cukup peduli untuk menegur kita. Banyak yang memilih diam dan membiarkan kita jatuh.
Orang yang mengasihi kita akan berani berkata jujur, bukan karena mereka ingin menyakiti, tetapi karena mereka tidak ingin kita hancur.
Renungan ini juga mengajak kita untuk memeriksa diri: apakah kita termasuk orang yang berani mengasihi dengan cara yang benar? Ataukah kita lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran?
Kasih yang sejati tidak selalu terasa manis. Kadang terasa tajam, tetapi justru menyelamatkan.
Seperti pisau bedah di tangan seorang dokter, teguran yang benar mungkin melukai sejenak, tetapi tujuannya adalah kesembuhan.
Kiranya kita menjadi orang yang tidak hanya pandai mengasihi dalam kata-kata, tetapi juga dalam keberanian untuk berkata benar.
Dan kiranya kita juga memiliki hati yang rendah untuk menerima teguran sebagai bagian dari pertumbuhan kita di hadapan Tuhan.
Seperti pisau bedah di tangan seorang dokter, teguran yang benar mungkin melukai sejenak, tetapi tujuannya adalah kesembuhan.
