
Amsal 26:4-5
Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama dan memasuki ladang anak-anak yatim, karena Penebus mereka kuat, Dialah yang akan memperjuangkan perkara mereka melawan engkau.
Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu hal yang paling sulit adalah menghadapi orang yang keras kepala, suka berdebat, merasa selalu benar, dan tidak mau mendengar.
Kitab Amsal menyebut orang seperti ini sebagai orang bebal.
Menariknya, Amsal 26:4-5 memberikan dua perintah yang terlihat bertolak belakang: jangan menjawab orang bebal, tetapi juga jawab orang bebal.
Ini bukan kontradiksi, melainkan pelajaran tentang hikmat dalam bersikap.
Tidak semua perkataan perlu ditanggapi. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kesalahan harus langsung dikoreksi.
Ada saat di mana kita harus diam, karena jika kita ikut berdebat, kita justru turun ke level yang sama dengan orang yang sedang bertindak bodoh. Perdebatan yang tidak sehat biasanya tidak mencari kebenaran, tetapi hanya ingin menang.
Jika kita masuk ke dalamnya, kita bisa kehilangan damai sejahtera, kehilangan kesabaran, bahkan kehilangan kesaksian hidup kita.
Tetapi Alkitab juga berkata ada saat di mana orang bebal harus dijawab.
Mengapa? Karena jika tidak, dia akan semakin merasa dirinya benar dan bijak.
Artinya, ada situasi di mana kebenaran harus tetap disampaikan. Ada situasi di mana kita harus berdiri dan berbicara dengan tegas, bukan untuk menang, tetapi untuk menyatakan kebenaran.
Di sinilah kita membutuhkan hikmat. Hikmat bukan hanya tahu apa yang benar, tetapi tahu kapan mengatakan yang benar. Hikmat bukan hanya tahu harus berbicara, tetapi juga tahu kapan harus diam.
Banyak konflik, pertengkaran, bahkan perpecahan hubungan terjadi bukan karena orang tidak tahu kebenaran, tetapi karena orang tidak punya hikmat dalam berbicara.
Orang yang tidak berhikmat akan menjawab semua hal, menanggapi semua komentar, membalas semua perkataan, dan akhirnya hidupnya penuh dengan konflik.
Tetapi orang yang berhikmat tahu bahwa damai seringkali lebih berharga daripada memenangkan perdebatan. Ia tahu bahwa tidak semua orang mau mendengar, dan tidak semua orang siap menerima kebenaran.
Renungan ini juga mengajar kita untuk mengendalikan ego. Kadang kita ingin menjawab bukan karena membela kebenaran, tetapi karena membela diri dan harga diri.
Kita tidak suka disalahkan, tidak suka diremehkan, tidak suka dikalahkan. Akhirnya kita menjawab dengan emosi, bukan dengan hikmat. Di situlah kita justru menjadi sama seperti orang bebal yang kita hadapi.
Yesus sendiri memberi teladan yang luar biasa. Dalam beberapa situasi Ia diam ketika dituduh, tetapi dalam situasi lain Ia menjawab dengan tegas. Ia tidak selalu menjawab semua orang.
Yesus tidak pernah terjebak dalam semua perdebatan. Ia tahu kapan harus diam dan kapan harus berbicara. Itu adalah hikmat yang berasal dari hati yang tenang dan dekat dengan Tuhan.
Karena itu, hikmat dalam berbicara sebenarnya berakar pada hati yang tenang.
Orang yang hatinya tenang tidak perlu memenangkan semua perdebatan. Orang yang hatinya aman di dalam Tuhan tidak perlu membuktikan dirinya selalu benar.
Orang yang dewasa rohani tahu bahwa terkadang diam adalah jawaban yang paling bijaksana.
Hari ini kita belajar satu hal penting: kedewasaan rohani bukan terlihat dari seberapa banyak kita berbicara, tetapi dari seberapa bijak kita berbicara. Dan seringkali, tanda hikmat terbesar adalah tahu kapan harus diam.
Kedewasaan rohani bukan terlihat dari seberapa banyak kita berbicara, tetapi dari seberapa bijak kita berbicara. Dan seringkali, tanda hikmat terbesar adalah tahu kapan harus diam.
