
Amsal 10:10
Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh.
Hidup manusia sangat dipengaruhi oleh cara kita berkomunikasi.
Bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya, bahkan sikap hati di baliknya.
Amsal 10:10 mengingatkan kita bahwa komunikasi yang tidak jujur atau tidak berhikmat pada akhirnya membawa masalah.
Bagian pertama ayat ini menggambarkan seseorang yang “mengedipkan mata”.
Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan ini mungkin terlihat sepele. Tetapi dalam konteks kitab Amsal, itu melambangkan sikap licik—sejenis komunikasi tersembunyi yang penuh manipulasi.
Orang seperti ini tidak berbicara secara terbuka. Ia menggunakan isyarat, intrik, atau cara-cara halus untuk mempengaruhi orang lain tanpa kejujuran.
Sering kali orang berpikir bahwa kelicikan adalah tanda kecerdikan. Ada orang yang merasa bangga karena bisa memanipulasi situasi tanpa diketahui orang lain. Namun Alkitab melihatnya secara berbeda.
Kelicikan tidak membawa damai. Sebaliknya, ia menabur kesusahan. Relasi rusak, kepercayaan hancur, dan suasana hati menjadi penuh kecurigaan.
Hikmat Tuhan selalu mengarah pada ketulusan. Orang berhikmat tidak perlu menyembunyikan niatnya di balik isyarat atau permainan tersembunyi. Ia hidup dalam terang, bukan dalam bayang-bayang intrik.
Bagian kedua ayat ini berbicara tentang orang yang “bodoh bicaranya”.
Berbeda dengan orang licik yang bersembunyi di balik isyarat, orang ini justru berbicara terlalu bebas. Ia tidak mengendalikan lidahnya. Ia mengatakan apa saja yang terlintas di pikirannya tanpa memikirkan akibatnya.
Banyak masalah dalam hidup muncul bukan karena peristiwa besar, tetapi karena kata-kata yang diucapkan tanpa hikmat.
Sebuah komentar yang sembrono, sebuah kata yang tajam, atau sebuah ucapan yang tidak dipikirkan dengan baik bisa melukai hati orang lain dan merusak hubungan yang telah lama dibangun.
Kitab Amsal berkali-kali menekankan bahwa lidah memiliki kuasa yang besar. Perkataan bisa membangun, tetapi juga bisa menghancurkan. Orang yang tidak belajar mengendalikan perkataannya pada akhirnya akan menuai akibat dari ucapannya sendiri.
Menariknya, ayat ini menunjukkan dua ekstrem yang berbeda tetapi sama-sama berbahaya. Yang pertama terlalu tersembunyi dan manipulatif. Yang kedua terlalu sembarangan dan tidak terkendali. Hikmat Tuhan tidak berada di kedua ujung ini.
Hikmat mengajar kita untuk hidup dengan hati yang tulus dan lidah yang terkendali.
Orang berhikmat tidak perlu licik untuk mencapai tujuannya. Ia juga tidak berbicara sembarangan tanpa pertimbangan. Ia belajar berbicara dengan kejujuran, kelembutan, dan kebijaksanaan.
Dalam kehidupan sehari-hari—di keluarga, pekerjaan, pelayanan, atau pertemanan—cara kita berkomunikasi membentuk banyak hal. Ketulusan membangun kepercayaan. Perkataan yang bijaksana membawa damai. Tetapi kelicikan dan perkataan bodoh hanya menimbulkan masalah.
Tuhan rindu agar umat-Nya dikenal sebagai orang-orang yang hidup dalam terang. Tidak penuh intrik, tidak penuh kata-kata sembrono, tetapi penuh kejujuran dan hikmat.
Ketika hati kita dipenuhi oleh hikmat Tuhan, cara kita berbicara pun akan berubah. Kita tidak lagi memakai lidah untuk memanipulasi atau melukai, tetapi untuk membangun, menolong, dan membawa damai.
Kelicikan tersembunyi dan perkataan sembrono sama-sama menghancurkan, tetapi hikmat melahirkan ketulusan dan perkataan yang membangun.
