Waspada Di Tengah Kelimpahan

Amsal 23:1-3

Apabila engkau duduk makan dengan seorang penguasa, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu, dan taruhlah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, karena itu adalah hidangan yang menipu.


Waspadalah ketika mungkin akan ada momen dalam hidup ketika kita duduk di “meja penguasa” — kesempatan besar, relasi strategis, fasilitas istimewa, atau tawaran yang menggiurkan.  

Saat itulah karakter diuji, bukan ketika kita kekurangan, tetapi ketika kita berkelimpahan.

Seringkali kita berpikir bahwa ujian terbesar adalah kesulitan. Padahal kenyataannya, banyak orang jatuh bukan karena penderitaan, melainkan karena kenikmatan yang tidak dikendalikan.

Hati menjadi mudah terpikat. Keputusan menjadi bias oleh keuntungan pribadi. Kita mulai mengabaikan integritas demi akses, posisi, atau rasa aman.

Firman Tuhan mengajarkan kewaspadaan. Duduk di meja kehormatan tidak salah. Mendapat kesempatan baik bukan dosa. Tetapi hikmat meminta kita menjaga diri.

Jangan sampai kita kehilangan arah karena terlalu menikmati hidangan di depan mata.  Jangan sampai relasi membuat kita berkompromi dengan nilai. Jangan sampai fasilitas membuat kita lupa siapa yang sebenarnya menjadi sumber berkat.

Sadarilah bahwa dalam kehidupan sehari-hari, “hidangan lezat” bisa berbentuk pujian yang berlebihan, tawaran bisnis yang samar, relasi yang menjanjikan keuntungan, atau bahkan kenyamanan pelayanan yang membuat kita lalai berjaga-jaga.  

Hikmat Amsal tidak pernah mengajarkan kecurigaan berlebihan, tetapi kesadaran rohani.  

Kesadaran bahwa tidak semua yang menyenangkan membawa damai sejati. Kesadaran bahwa integritas lebih berharga daripada keuntungan sesaat.  Kesadaran bahwa karakter dibangun lewat disiplin diri.

Ingatlah bahwa pengendalian diri adalah tanda kedewasaan rohani. 

Kita belajar berkata “cukup” ketika hati mulai menginginkan lebih.

Kita belajar berkata “tidak” ketika sesuatu mulai menggeser prioritas Tuhan dalam hidup kita.

Kita belajar menjaga sikap, ucapan, dan keputusan, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

Di tengah dunia yang mendorong kita untuk mengambil sebanyak mungkin kesempatan, Firman mengundang kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah ini membawa kemuliaan bagi Tuhan?

Apakah ini selaras dengan panggilan hidupku?

Apakah aku masih berdiri di atas kebenaran, atau mulai tergoda oleh kenyamanan?

Hidup berhikmat bukan berarti menolak semua kelimpahan, tetapi menjaga hati agar tetap murni di tengah kelimpahan itu.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *