
Amsal 23:10-11
Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama dan memasuki ladang anak-anak yatim, karena Penebus mereka kuat, Dialah yang akan memperjuangkan perkara mereka melawan engkau.
Dunia sering kali berjalan dengan logika kekuatan.
Yang kuat menang, yang lemah tersingkir. Yang memiliki kuasa dan sumber daya sering kali mampu mengambil lebih banyak, sementara mereka yang tidak memiliki perlindungan mudah kehilangan apa yang mereka miliki.
Realitas ini tidak hanya terjadi di zaman modern. Bahkan pada zaman Amsal ditulis, hal yang sama sudah terjadi.
Salah satu bentuk ketidakadilan yang umum pada masa itu adalah memindahkan batas tanah. Dengan menggeser batu penanda sedikit demi sedikit, seseorang dapat memperluas lahannya secara diam-diam.
Bagi keluarga yang kuat, ini mungkin terlihat sebagai trik kecil yang sulit dibuktikan. Namun bagi keluarga yang lemah—terutama anak yatim—pergeseran kecil itu bisa berarti kehilangan warisan, kehilangan masa depan, bahkan kehilangan tempat hidup.
Alkitab sangat serius mengenai hal ini.
Bagi Tuhan, keadilan bukan sekadar konsep hukum, tetapi cerminan karakter-Nya.
Ia adalah Allah yang memperhatikan mereka yang sering dilupakan dunia: orang miskin, janda, dan anak yatim. Ketika tidak ada yang membela mereka, Tuhan sendiri berdiri sebagai Pembela.
Bayangkan betapa kuatnya pernyataan ayat ini: “Penebus mereka kuat.”
Artinya, mereka mungkin terlihat lemah di mata manusia, tetapi mereka memiliki Pembela yang tidak bisa dikalahkan.
Ketika seseorang mengambil hak mereka, ia sebenarnya sedang menantang keadilan Tuhan sendiri.
Mari sadari bahwa ketidakadilan tidak selalu terjadi dalam bentuk besar dan dramatis.
Kadang-kadang ia muncul dalam hal kecil: mengambil keuntungan dari ketidaktahuan orang lain, memanfaatkan posisi yang lebih kuat, atau bersikap tidak adil terhadap mereka yang tidak mampu melawan.
Hikmat Amsal mengajarkan bahwa orang benar tidak hanya menghindari kejahatan, tetapi juga menjaga integritas dalam relasi dengan mereka yang lebih lemah.
Integritas sejati terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa membalas atau melawan kita.
Sebagai pengikut Tuhan, kita dipanggil untuk mencerminkan hati Allah. Jika Tuhan membela yang lemah, maka umat-Nya juga dipanggil untuk memiliki hati yang sama.
Kita tidak boleh menjadi bagian dari sistem yang menindas, tetapi menjadi alat Tuhan yang membawa keadilan, belas kasihan, dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.
Pada akhirnya, ayat ini juga memberi penghiburan bagi mereka yang pernah diperlakukan tidak adil. Tuhan melihat. Ia tidak menutup mata terhadap ketidakadilan.
Mungkin manusia tidak membela kita, mungkin dunia tampak tidak peduli, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang tertindas.
Percayalah bahwa Penebus mereka kuat. Dan Dia tidak pernah gagal membela perkara yang benar.
Orang yang menindas yang lemah sedang berhadapan dengan Allah yang menjadi pembela mereka.