
Amsal 20:3
Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.
Banyak orang mengira bahwa kehormatan diperoleh ketika kita menang dalam perdebatan. Ketika argumen kita lebih kuat, suara kita lebih keras, atau lawan bicara akhirnya terdiam, kita merasa unggul.
Namun Amsal 20:3 membalik cara pandang itu. Firman Tuhan menyatakan bahwa kehormatan justru ada pada kemampuan untuk menghindarkan diri dari pertengkaran.
Ini bukan berarti orang berhikmat adalah orang yang lari dari masalah atau takut menyatakan kebenaran. Yang dimaksud adalah sikap hati yang tidak reaktif.
Orang berhikmat mampu membedakan antara konflik yang perlu disikapi dengan bijak dan pertengkaran yang hanya memuaskan ego.
Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia sadar bahwa tidak semua perdebatan layak untuk diperjuangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering terjebak pada pertengkaran kecil yang tidak membangun. Di rumah, di tempat kerja, di komunitas, bahkan di gereja, perbedaan pendapat dapat dengan cepat berubah menjadi konflik emosional.
Kata-kata yang seharusnya membangun malah melukai. Nada bicara meninggi, hati mengeras, dan relasi menjadi rusak. Ironisnya, semua itu sering terjadi demi hal-hal yang sebenarnya tidak esensial.
Amsal 20:3 menolong kita melihat bahwa kemampuan menahan diri adalah tanda kedewasaan rohani. Orang yang dewasa tidak perlu selalu membuktikan bahwa dirinya benar. Ia lebih peduli pada damainya relasi daripada kemenangan pribadi.
Ia mengerti bahwa kehormatan sejati tidak datang dari pengakuan manusia, tetapi dari hidup yang selaras dengan hikmat Tuhan.
Sebaliknya, orang bebal digambarkan sebagai orang yang “suka bertengkar.” Bukan sekadar pernah bertengkar, tetapi menikmati pertengkaran itu sendiri. Ada kepuasan ketika konflik terjadi. Ada dorongan untuk selalu merespons, membalas, dan mempertahankan diri.
Sikap seperti ini membuat seseorang terjebak dalam lingkaran konflik yang melelahkan dan merusak.
Renungan ini mengajak kita untuk jujur melihat diri sendiri. Ketika terjadi perbedaan pendapat, apa reaksi pertama kita.
Apakah kita langsung tersulut emosi, atau kita memberi ruang bagi hikmat Tuhan untuk bekerja.
Apakah kita lebih ingin didengar, atau lebih ingin menjaga hati dan relasi.
Sering kali, keheningan yang dipilih dengan sadar jauh lebih kuat daripada seribu kata yang diucapkan dengan emosi.
Menghindari pertengkaran bukan berarti menekan perasaan atau memendam kebenaran. Itu berarti memilih waktu, cara, dan sikap yang tepat. Orang berhikmat tetap dapat menyampaikan kebenaran, tetapi dengan kelembutan dan penguasaan diri. Ia tidak membiarkan amarah memimpin, melainkan membiarkan hikmat Tuhan mengarahkan langkahnya.
Dalam terang Kerajaan Allah, sikap ini sangat relevan. Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus menghasilkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Pertengkaran yang tidak perlu justru menggerogoti ketiga hal itu.
Karena itu, menahan diri dari konflik yang tidak membangun adalah bentuk ibadah yang nyata. Itu adalah kesaksian bahwa kita lebih percaya pada hikmat Tuhan daripada dorongan emosi kita sendiri.
Hari ini, mungkin ada situasi yang memancing kita untuk bertengkar. Ada kata-kata yang menyakitkan, sikap yang tidak adil, atau perbedaan yang terasa mengganggu. Amsal 20:3 mengingatkan kita bahwa kita selalu memiliki pilihan.
Kita bisa memilih jalan bebal yang penuh pertengkaran, atau jalan hikmat yang penuh kehormatan. Jalan hikmat mungkin tidak selalu terlihat heroik, tetapi di mata Tuhan, itulah kemuliaan sejati.
Kehormatan sejati terlihat bukan saat kita menang berdebat, tetapi saat kita mampu menahan diri demi damai.