
Amsal 24:1-2
Janganlah iri kepada orang-orang yang jahat, dan jangan ingin bergaul dengan mereka; karena hati mereka memikirkan kekerasan, dan bibir mereka membicarakan bencana
Ada saat-saat di mana kita melihat orang lain tampak melesat lebih cepat. Usahanya berkembang pesat. Jaringannya luas. Pengaruhnya kuat.
Sementara kita berusaha berjalan lurus, tetapi hasilnya terasa lambat. Di titik itulah godaan iri mulai berbisik pelan.
Iri sering datang bukan dalam bentuk kebencian, melainkan kekaguman yang tidak sehat. Kita mulai berkata dalam hati, “Seandainya aku seperti dia.” Tanpa sadar kita mulai mentoleransi cara yang tidak benar.
Kita mulai menganggap kelicikan sebagai kecerdikan. Kita mulai menganggap manipulasi sebagai strategi.
Namun Firman Tuhan berkata: jangan iri. Jangan ingin bergaul dengan mereka. Mengapa? Karena yang terlihat di permukaan tidak sama dengan yang sedang dibangun di dalam hati.
Hati yang merancang kekerasan tidak pernah benar-benar tenang. Bibir yang menebar bencana pada akhirnya akan menuai kehancuran.
Ada perbedaan besar antara keberhasilan yang lahir dari integritas dan keberhasilan yang lahir dari kompromi.
Yang pertama mungkin bertumbuh perlahan, tetapi akarnya dalam. Yang kedua mungkin cepat tinggi, tetapi rapuh ketika badai datang.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk berhasil, tetapi untuk benar.
Dunia mungkin mengukur dari hasil yang kelihatan. Tuhan mengukur dari hati yang tersembunyi. Dunia terpukau pada pencapaian. Tuhan melihat motivasi.
Iri hati membuat kita kehilangan rasa syukur. Kita berhenti melihat apa yang Tuhan sudah percayakan. Kita hanya fokus pada apa yang belum kita miliki. Padahal setiap perjalanan hidup punya waktunya sendiri. Setiap musim punya maksudnya sendiri.
Ketika kita iri kepada orang fasik, sebenarnya kita sedang meragukan cara Tuhan bekerja.
Seolah-olah kita berkata bahwa jalan Tuhan terlalu lambat atau terlalu tidak efektif. Tetapi Alkitab berkali-kali menunjukkan bahwa keadilan Tuhan mungkin tampak tertunda, tetapi tidak pernah gagal.
Lebih baik berjalan lambat bersama Tuhan daripada berlari cepat tanpa Dia. Lebih baik membangun sedikit demi sedikit dengan tangan yang bersih, daripada mendirikan sesuatu yang besar di atas hati yang gelap.
Hari ini, jika hati kita mulai tergoda melihat “keberhasilan” yang tidak lahir dari kebenaran, berhentilah sejenak. Mintalah Tuhan menata ulang pandangan kita. Mintalah Dia memberi kita sukacita dalam proses, kesetiaan dalam langkah kecil, dan keteguhan untuk tetap berjalan di jalan yang benar.
Karena pada akhirnya, damai sejahtera lebih berharga daripada popularitas. Integritas lebih kuat daripada tipu daya. Dan hidup yang diperkenan Tuhan jauh lebih indah daripada pujian manusia.
Jangan iri pada kilau yang lahir dari kegelapan, karena terang Tuhan lebih tahan lama daripada gemerlap yang sementara.