Sama Berharga di Hadapan Tuhan

Amsal 22:2

Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN


Kita bahkan mungkin merasa lebih nyaman berbicara dengan mereka yang setara secara ekonomi. Kita mungkin lebih cepat menghormati orang yang terlihat berhasil.

Dan tanpa sadar, hati kita bisa menjadi selektif dalam memberi perhatian.

Namun Amsal 22:2 mengingatkan sesuatu yang mendasar: orang kaya dan orang miskin “bertemu”.

Kata ini memberi gambaran bahwa dalam hidup, kita akan selalu berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.  Gereja, tempat kerja, lingkungan sosial—semuanya adalah ruang pertemuan itu.

Dan di tengah pertemuan tersebut, Tuhan berdiri sebagai Pencipta keduanya.

Jika Tuhan adalah Pencipta semua, maka setiap manusia membawa jejak gambar Allah.  Tidak ada yang lebih “bernilai” di mata-Nya hanya karena memiliki lebih banyak.  

Ayat ini juga mengingatkan kita untuk rendah hati.  

Jika hari ini kita memiliki kelimpahan, itu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.  

Jika hari ini kita berada dalam keterbatasan, itu bukan alasan untuk merasa kurang berharga.  

Di dalam komunitas orang percaya, prinsip ini menjadi sangat penting.  Kasih Kristus tidak membeda-bedakan.  Kerajaan Allah bukan dibangun di atas stratifikasi sosial, tetapi di atas kasih karunia.  

Kita dipanggil untuk menghormati setiap orang, melayani tanpa pilih kasih, dan melihat sesama sebagai sesama ciptaan yang dikasihi Tuhan.

Karena itu terkadang Tuhan sengaja mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda dari kita untuk membentuk hati kita.

Mungkin melalui mereka yang sederhana, Tuhan mengajar kita tentang ketulusan.

Mungkin melalui mereka yang berkecukupan, Tuhan menguji apakah kita tetap tulus atau tergoda oleh kepentingan.

Amsal 22:2 bukan sekadar pernyataan sosial. Ini adalah panggilan rohani.  Panggilan untuk melihat manusia bukan dari atas atau dari bawah, tetapi dari samping—sebagai sesama ciptaan yang berdiri di bawah Tuhan yang sama.

Ketika kita menyadari bahwa kita semua dibuat oleh Tuhan, hati kita dilunakkan.  Kesombongan dipatahkan. Rasa minder disembuhkan. Dan relasi dipulihkan.

Kita belajar menghargai bukan karena status, tetapi karena Sang Pencipta.

Di dunia yang sering mengukur nilai manusia berdasarkan harta, ayat ini mengundang kita kembali kepada hikmat sejati.  Bahwa di mata Tuhan, setiap orang memiliki martabat yang sama.

Dan ketika kita memperlakukan sesama dengan kesadaran ini, kita sedang hidup selaras dengan hati Allah.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *