
Amsal 20:4
Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim panen, maka tidak ada apa-apa.
Salah satu kenyataan hidup yang sering sulit diterima adalah bahwa hasil tidak datang secara tiba-tiba.
Banyak orang ingin menikmati panen, tetapi tidak semua orang mau menjalani musim menabur.
Amsal 20:4 menggambarkan seorang pemalas yang tidak membajak pada musim dingin. Ia tidak bekerja ketika waktunya bekerja.
Mungkin ia memiliki banyak alasan. Cuaca terlalu dingin. Tanah terlalu keras. Pekerjaan terlalu melelahkan. Ia memilih menunggu waktu yang lebih nyaman.
Masalahnya, musim tidak menunggu kita.
Dalam kehidupan rohani maupun kehidupan sehari-hari, Tuhan menempatkan kita dalam berbagai “musim”.
Ada musim belajar, musim bekerja keras, musim membangun karakter, dan musim menabur kesetiaan.
Musim-musim ini sering kali terasa biasa saja, bahkan kadang tidak menyenangkan. Tidak ada sorotan. Tidak ada hasil instan. Hanya kesetiaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Namun justru di situlah masa depan dibentuk.
Kemalasan jarang terlihat seperti kemalasan yang jelas. Sering kali ia muncul dalam bentuk penundaan kecil: “nanti saja”, “besok saja”, atau “belum waktunya”.
Hari demi hari berlalu, dan tanpa disadari kita melewatkan musim yang penting.
Si pemalas dalam Amsal tetap datang pada musim panen. Ia tetap berharap ada hasil. Ia mencari, mungkin dengan penuh harapan.
Tetapi ayat itu berkata dengan sangat tegas: “tidak ada apa-apa.”
Ini bukan karena Tuhan tidak adil. Ini karena prinsip kehidupan yang Tuhan tetapkan. Panen selalu mengikuti penaburan.
Sebaliknya, orang bijaksana belajar setia dalam musim yang tidak nyaman.
Ia bekerja ketika orang lain malas. Ia menabur ketika belum ada tanda-tanda panen.
Ia membangun disiplin ketika tidak ada yang melihat. Ia melakukan hal-hal kecil dengan setia.
Ketika musim panen tiba, hasilnya terlihat.
Hal ini berlaku dalam banyak aspek kehidupan.
Dalam pekerjaan, kesetiaan kecil setiap hari menghasilkan kepercayaan dan pertumbuhan.
Dalam relasi, perhatian dan kasih yang konsisten membangun hubungan yang kuat.
Dalam kehidupan rohani, waktu bersama Tuhan yang setia setiap hari membentuk hati yang matang.
Musim kerja mungkin terasa berat. Tetapi musim panen selalu dimulai dari sana.
Sering kali kita melihat panen orang lain tanpa melihat musim membajak yang mereka jalani. Kita melihat hasil, tetapi tidak melihat proses panjang di belakangnya.
Amsal 20:4 mengundang kita untuk memeriksa diri: apakah kita sedang setia di musim kita sekarang?
Atau kita sedang menunda sesuatu yang sebenarnya Tuhan percayakan untuk kita lakukan hari ini?
Sadarlah bahwa Kesetiaan kecil hari ini adalah benih bagi berkat di masa depan.