
Amsal 1:10-14
Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut; jikalau mereka berkata: “Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena; biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur; kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan; buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian.
Dalam hidup, salah satu tekanan terbesar bukan penderitaan, tetapi ajakan.
Banyak orang tidak jatuh karena tidak tahu yang benar, tetapi karena mengikuti ajakan yang salah. Tekanan terbesar sering datang bukan dari musuh, tetapi dari teman, lingkungan, atau orang-orang yang mengajak kita berjalan bersama mereka.
Amsal menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana dosa bekerja. Mereka tidak berkata, “Mari kita berbuat jahat.” Mereka berkata, “Mari ikut dengan kami.”
Yang ditawarkan pertama bukan kejahatan, tetapi kebersamaan. Manusia tidak suka sendirian. Kita ingin diterima, ingin menjadi bagian dari kelompok, ingin merasa memiliki teman seperjalanan.
Dan sering kali, demi kebersamaan, orang rela mengorbankan kebenaran.
Setelah kebersamaan, yang ditawarkan adalah keuntungan.
Mereka berkata akan mendapat benda berharga, rumah penuh dengan rampasan, dan semua orang punya satu pundi-pundi bersama. Ini adalah gambaran keuntungan cepat, hasil besar tanpa kerja keras, kekayaan tanpa proses.
Dunia sampai hari ini masih menawarkan hal yang sama: uang cepat, sukses cepat, jalan pintas. Tetapi hampir semua jalan pintas dalam hidup biasanya adalah jalan yang berbahaya.
Menariknya, nasihat dalam Amsal ini sangat sederhana: janganlah engkau menurut. Tidak panjang, tidak rumit.
Kadang-kadang kemenangan terbesar dalam hidup bukan melakukan hal besar, tetapi menolak satu ajakan yang salah. Satu keputusan kecil untuk berkata tidak bisa menyelamatkan seseorang dari penyesalan besar di masa depan.
Banyak penyesalan dalam hidup dimulai dari satu kalimat: “Saya hanya ikut-ikut.”
Ikut teman, ikut arus, ikut peluang, ikut kesempatan, ikut kelompok. Tetapi arah hidup seseorang sering ditentukan oleh siapa yang ia ikuti.
Karena itu, hikmat bukan hanya soal memilih jalan yang benar ketika sendirian, tetapi memilih jalan yang benar ketika banyak orang berjalan ke arah yang salah.
Hikmat adalah keberanian untuk berbeda. Hikmat adalah kemampuan untuk berjalan menjauh ketika semua orang berjalan mendekat. Hikmat adalah berkata tidak ketika semua orang berkata ayo.
Dalam hidup, tidak semua ajakan harus diikuti. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua jalan yang menghasilkan uang adalah jalan yang benar.
Bahkan: Tidak semua kebersamaan membawa kita ke tempat yang baik.
Kadang-kadang kata yang paling menyelamatkan hidup kita bukan ya, tetapi tidak.
Tidak kepada dosa.
Tidak kepada jalan pintas.
Tidak kepada keuntungan yang tidak benar.
Tidak kepada ajakan yang kita tahu tidak berkenan kepada Tuhan.
Orang berhikmat bukan orang yang tidak pernah mendapat ajakan yang salah, tetapi orang yang tahu kapan harus berkata tidak.
Orang berhikmat bukan selalu berkata ya pada kesempatan, tetapi tahu kapan harus berkata tidak.