
Amsal 21:4
Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.
Ada orang yang hidup dengan sangat percaya diri. Mereka yakin dengan kemampuan, keputusan, dan penilaian mereka sendiri.
Dalam pandangan manusia, sikap seperti ini sering dianggap sebagai kekuatan. Dunia bahkan sering memuji orang yang tampak begitu yakin pada dirinya.
Namun firman Tuhan mengajak kita melihat lebih dalam. Bukan hanya pada tindakan yang terlihat, tetapi pada arah hati yang memimpin hidup seseorang.
Amsal berkata bahwa orang fasik memiliki “pelita”.
Mereka memang memiliki sesuatu yang menuntun hidup mereka. Mereka memiliki prinsip, pemikiran, bahkan keyakinan tentang bagaimana menjalani hidup. Tetapi pelita itu bukan berasal dari Tuhan.
Pelita itu adalah kesombongan.
Kesombongan membuat seseorang merasa bahwa ia tidak perlu Tuhan. Ia merasa cukup dengan hikmatnya sendiri.
Ia merasa pandangannya selalu benar. Ia sulit menerima nasihat, sulit mengakui kesalahan, dan sulit merendahkan diri.
Itulah sebabnya kesombongan begitu berbahaya. Kesombongan tidak hanya menjadi dosa di hati, tetapi juga menjadi arah hidup.
Ia menjadi “lampu” yang menuntun langkah seseorang—dan lampu itu menuntun ke arah yang salah.
Sebaliknya, orang yang hidup dalam hikmat Tuhan memiliki pelita yang berbeda.
Mazmur berkata bahwa firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Artinya, orang yang rendah hati bersedia membiarkan Tuhan yang menuntun hidupnya.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat. Kerendahan hati berarti menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan setiap hari.
Kita selalu membutuhkan hikmat-Nya, koreksi-Nya, dan tuntunan-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesombongan sering muncul dalam bentuk yang halus.
Ketika kita merasa selalu benar. Ketika kita sulit menerima kritik. Ketika kita diam-diam merasa lebih baik dari orang lain. Pada saat-saat seperti itu, firman Tuhan mengingatkan kita untuk memeriksa hati.
Apakah pelita yang menuntun hidup kita adalah hikmat Tuhan, ataukah kesombongan kita sendiri?
Hidup yang dipimpin oleh kesombongan mungkin tampak terang untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya ia membawa seseorang ke dalam kegelapan.
Sebaliknya, hidup yang dipimpin oleh Tuhan mungkin terlihat sederhana, tetapi ia berjalan di dalam terang yang sejati.
Karena itu setiap hari kita diajak untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan.
Bukan mengandalkan terang dari diri sendiri, tetapi mencari terang dari firman-Nya. Ketika Tuhan menjadi pelita hidup kita, langkah kita akan berjalan di jalan yang benar.
Hidup yang dipimpin oleh kesombongan mungkin tampak terang untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya ia membawa seseorang ke dalam kegelapan.