HIkmat Tumbuh Dalam Komunitas

Amsal 18:1

Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, dan berselisih dengan segala kebijaksanaan.


Merasa tidak perlu mendengar pendapat orang lain, tidak perlu menerima koreksi, dan tidak perlu menjelaskan keputusan yang diambil. Hidup seperti ini terlihat sederhana dan bebas. Namun Alkitab mengingatkan bahwa di balik keinginan untuk menyendiri sering tersembunyi bahaya yang besar.

Amsal 18:1 menggambarkan seseorang yang memisahkan diri karena ia ingin mengikuti keinginannya sendiri. Ia tidak benar-benar mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran bagi dirinya.

Ketika seseorang hanya ingin mendengar suara hatinya sendiri, ia akan menutup telinga terhadap hikmat yang datang dari luar dirinya.

Melalui sahabat yang mengingatkan, pemimpin rohani yang menegur, atau keluarga yang memberikan perspektif yang berbeda. Semua itu adalah sarana yang Tuhan pakai untuk menjaga kita dari kesalahan yang mungkin tidak kita sadari.

Orang yang menutup diri dari nasihat biasanya merasa dirinya sudah cukup tahu. Ia mulai menilai setiap koreksi sebagai ancaman, bukan sebagai pertolongan. Lama-kelamaan ia hidup dalam dunia yang hanya berisi pikirannya sendiri.

Tanpa disadari, ia sedang berjalan menjauh dari hikmat.

Sebaliknya, orang yang berhikmat menyadari bahwa dirinya tidak selalu benar. Ia bersedia mendengar, bahkan ketika nasihat itu tidak nyaman.

Ia mengerti bahwa pertumbuhan sering datang melalui koreksi.

Karena dalam komunitas yang sehat, kita dipertajam, dibentuk, dan dijaga dari keputusan yang gegabah.

Tetapi hati yang rendah hati akan mempertimbangkan nasihat dengan serius. Ia tidak langsung menolak, melainkan bertanya: mungkin Tuhan sedang mengajar sesuatu melalui orang ini.

Komunitas adalah salah satu cara Tuhan memelihara kita. Ketika kita hidup terbuka terhadap nasihat yang benar, kita sebenarnya sedang membuka diri terhadap pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.

Hikmat jarang bertumbuh dalam kesendirian yang egois. Ia biasanya lahir dalam relasi yang jujur dan saling membangun.

Karena itu, penting bagi kita untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah kita masih memiliki hati yang mau diajar? Apakah kita masih bersedia menerima koreksi? Atau kita sudah terlalu nyaman hidup dalam dunia kita sendiri?

Orang yang bijak tidak takut mendengar suara lain, karena ia tahu bahwa hikmat Tuhan sering kali datang melalui komunitas yang Tuhan tempatkan di sekelilingnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *